Penarikan Kesimpulan Modus Ponens dan Modus Tollens – by Mutiara Fitri

by Mutiara Fitri

Tulisan-tulisan di kategori Logika (Bisnis Oriflame) Matematika ini hanya ditujukan untuk mereka yang sedang belajar hal-hal dasar tentang Logika (bisnis Oriflame) Matematika.
semoga semakin membuka MINDSET MENTAL BLOCK yang ada pada diri kita, serta membuang rasa malas itu sendiri.
Saat saya sedang belajar kuliah Pemrograman Non Prosedural (terutama bagian Pemrograman Logika), saya banyak menemui masyarakat yang belum memahami kegunaan logika matematika, terutama dalam kegiatan sehari-hari ataupun mereka yang menjalani bisnis. Padahal tujuan utama semua ilmu adalah membantu kehidupan manusia. Demikian juga dengan logika matematika. Salah satu manfaatnya adalah membantu membuat (menarik) kesimpulan yang benar. Tulisan ini akan membahas tentang teknik penarikan kesimpulan dasar, yaitu Modus Ponens dan Modus Tollens dalam berbisnis.
Agar cakupannya tidak meluas, jenis logika yang saya pakai di tulisan ini adalah logika proposisi (propositional logic). Dalam logika proposisi, sebuah kalimat dinyatakan dengan sebuah simbol (yang mungkin berindeks).
Contoh 1:
p:saya memulai bisnis Oriflame
q : impian saya tercapai

p Λ q : saya memulai bisnis Oriflame dan impian saya tercapai (disingkat: saya memulai berbisnis Oriflame dan impian tercapai)

p V q : saya berbisnis Oriflame atau impian saya tercapai
p → q : jika saya memulai bisnis Oriflame maka impian saya tercapai
¬ p : saya tidak berbisnis Oriflame
Modus Ponens dan Modus Tollens sebenarnya adalah teknik penarikan kesimpulan dari logika manusia juga. Di Logika Matematika, kedua teknik penarikan kesimpulan tersebut dinyatakan dengan:
Modus Ponens
p → q
p
———
Kesimpulan: q
Modus Tollens
p → q
¬ q
———
Kesimpulan: ¬ p
Arti Modus Ponens adalah “jika diketahui p → q dan p, maka bisa ditarik kesimpulan q“. Sedangkan Modus Tollens berarti “jika diketahu p → q dan ¬q, maka bisa ditarik kesimpulan ¬p“.
Contoh 2:
Diketahui cerita sederhana berikut: Jika saya mulai bisnis Oriflame maka saya mendapatkan penghasilan ke-2. Saya memulai bisnis Oriflame. Apakah saya mendapatakan penghasilan ke-2???
Solusi:
Menggunakan Contoh 1 di atas, kita memperoleh kalimat matematika:
p → q
p
Menggunakan Modus Ponens, maka kita bisa menarik kesimpulan q, yang artinya saya mendpatkan penghasilan ke-2

Contoh 3:
Diketahui cerita sederhana berikut: Jika saya memulai bisnis Oriflame maka saya mencapai impian. Saya tidak berbisnis Oriflame. Apakah saya tidak dapat mencapai impian????
Solusi:
Menggunakan Contoh 1 di atas, kita memperoleh kalimat matematika:
p → q
¬q
Menggunakan Modus Tollens, maka kita bisa menarik kesimpulan ¬p, yang artinya saya tidak berbisnis Oriflame.
Bisa kita lihat, kita tidak akan mencapai impian, kalau kita tidak berbisnis Oriflame, pengecualian orang tua kaya raya, dapet hadiah tabuangan milyaran , keluargga konglomerat yang nggak punya hutang..

Contoh 4:
Diketahui cerita sederhana berikut: Jika saya kerja keras maka saya dapat penghasilan. Jika saya dapat penghasilan maka Saya berbisnis Oriflame. Saya kerja keras. Apakah saya berbisnis Oriflame???
Solusi:
Misalkan:
p : saya kerja keras
q : saya dapat penghasilan
r : berbisnis Oriflame
maka, cerita sederhana tersebut dapat dinyatakan dengan
1: p → q
2: q → r
3: p
Menggunakan Modus Ponens untuk kalimat 1 dan kalimat 3, maka kita bisa menarik kesimpulan q, yang artinya saya dapat penghasilan. Kalimat-kalimat matematikanya bisa kita ubah menjadi:
1: p → q
2: q → r
3: p
4: q
Dengan menggunakan Modus Ponens untuk kalimat 2 dan 4, kita memperoleh kesimpulan r, yang artinya Saya berbisnis Oriflame.
Kita bisa simpulkan sendiri, kalau kita kerja keras = berpenghasilan = berbisnis Oriflame
yang saya maksudkan disini, kita kerja keras, juga berbisnis Oriflame, juga dapat berpenghasilan.
nah an… bisa dinilai sendiri, kita nggak kerja = yaaa nggak dapat penghasilan.
begitu juga Oriflame, kalau nggak dikerjain sampe keras, yaaa nggak dapet penghasilan.
kalau ada yang bilang nggak usah kerja, coba cek lagi… halal nggak ? kok ada nggak kerja dapet uang… xixixi

Jangan pusing yaaak :)

ini matematika berbisnis sekaligus Logikanya :D

Alhamdulilah yaaah, Oriflame bonusnya FAIR

Kita Kerja yaaaa kita dapat penghasilan juga dapet tercapai impian.

okeee… siapa yang mau ikutan? :)

kita kerja sama-sama hyuuuk …. :D

Jangan bilang ngasih pelajaran yaaaaaaak, inspirasi itu lewat ketika memandang si matematika ini :)

2014 – by Ika Wardany

by Ika Wardany

2014 adalah tahun yg gak biasa untuk saya.
Membiasakan diri menjadi seorang SM (karena saya qual SM dibulan Desember akhir tahun 2013) .
Belajar dan belajar lagi untuk memimpin jaringan yg lebih besar lagi.
Mudah? Yah dikatakan mudah jg tidak,dikatakan sulit pun tidak.
Yg pasti berusaha banget biar jaringan semakin tumbuh dan besar.
Berhasilkah? Yah yang namanya proses belajar gak ada yg mulus seperti jalan tol kan?itu jg yg saya alami.
Bulan pertama atau kedua agak-agak lupa-lupa inget langsung ditinggalin sama satu orang manager 12%. Lumayan yah baru jd SM ditinggal manager 12%.
Pusing gak? yah dikit lah. Gak mau sok kuat :P .
Dan saya tetap berjalan, alhamdulillah buah kesabaran lahir lagi manager 12% yg baru, ditinggal nya 1 lahirnya 2.
Kalo gini jd pengen ditinggal lagi 2 yah biar lahir 4 hihi gak lah.
Touch down mulus di DIR pada bulan Mei,ini lebih sesuatu lagi.
Saat qual Dir,saat itu juga qnezz anak saya berusia 4 tahunan saat itu positive typus dan harus dirawat di RS.
Sedih?pasti.tapi gak ngurangin semangaat untuk tetap berjuang dibisnis ini.
Gak mau nyalahin keadaan atau siapapun,semua takdir pasti sudah tertulis dan akan terjadi.itu aja.

Berjalannya waktu bisnis saya ini kembali dikasih nikmat ,saya ditinggal lagi oleh Manager 12% sekitar bulan juli, dan berturut-turut ditinggalkan CT yg sedikit lagi,ibaratnya mah tinggal kedip aja sudah wuss ke 12%.
Belum berenti sampai disitu, sekitar bulan agustus kembali ditinggalkan 1orang CT +1orang manager 12%.yg sudah saya anggap sebagai adik-adik saya sendiri, Huhuhuu makin kerasa yah perjuangan ini.
Mau tau rasanya? Kalo boleh nyanyi mah udah nyanyi *sakitnya tuh disini* kali yah.
Tapi yah balik lagi impian buat punya rumah,buat punya roda 4 untuk qnezz +pupu dan buat bs selalu ngangguk iya sewaktu orang tua membutuhkan apapun itu jauh lebih kuat dari pada rasa sakit hati ini .
Selalu ingat orang kerja itu gak ada yg perjalananya lurus aja tanpa masalah.
Gak seru nanti cerita suksesnya kalo jalannya mulus-mulus aja.
Jalan lagi deh akhirnya saya selangkah demi selangkah.
Udah,lancar lagi perjalanannya?alhamdulillah belum, Ini lebih dahsyat lagi.
Lagi-lagi saya ditinggal manager dan kali ini manager 15% ,manager yg memang sudah saya siapkan akan menjadi calon SM dijaringan saya.manager yg memang orang terdekat saya yg saya gak pernah bayangkan akan memutuskan menyerah jg seperti yg sudah-sudah.
Dan Yg tadinya saya harapkan bisa membantu saya dalam membina jaringan.
Tapi yah itulah,kejadian ini membuat saya sadar gak boleh menggantungkan bisnis dan impian saya kepada siapapun itu orangnya.ini satu pelajaran yg membuat saya tetap berdiri dan kembali berjalan meskipun perlahan.

Banyak yg nilai enak jd mb ika jaringan sudah besar bonus sudah besar.tapi cb liat deh berapa org manager yg sudah meninggalkan saya? 5 orang.yakin enak jd saya?

Kita sama-sama berjuang kok teman-teman.saya dan kalian…
Seorang pengejar impian,walaupun keadaannya sudah sangat nyaman,akan tetap berjuang untuk mewujudkan satu demi satu impiannya.impiannya sudah tercapai tetap akan mengejar impian anaknya,suaminya,orang tuanya dan akan terus berjuang.

Saya sengaja tulis ini biar temen-temen bisa liat saya gak hanya dihasilnya aja “mb ika sih enak sudah dir,penghasilan sudah sekian” .tapi liat jg apa yg saya alami dan apa yg saya lakukan untuk mencapai itu.
Plus temen-temen bisa liat sendiri ditinggalkan downline itu bukan berarti “dunia berakhir ” kok dan gak akan berpengaruh yg signifikan banget kalo teman-teman mau untuk terus semangat berjuang jalan kedepan.
Jadi jangan mau kehilangan bisnis kelas dunia ini hanya karena ditinggal downline atau ditinggal upline yah.
Bisnis ini terlalu berharga untuk ditinggalkan. Yakinkan itu dihati teman-teman yah :)

Notes ini saya tulis pada saat 200an bp lagi untuk qual Dir bulan Desember ini.doain saya yah…
Dan doain juga dipenghujung tahun ini gak bertambah lagi list manager saya yg mengundurkan diri.
Kalo boleh minta nambah doanya, doain yah biar cepet open goldnya saya. Amiiiiin…

Makasih loh buat yg mau nyempetin baca,dan makasih jg buat yg mau aminin doa saya.

Love,
Ika Wardany

Mental Block – by Talisa Noor

by Talisa Noor

Akhir-akhir ini saya sering banget denger kata “mental block”. Di kampus, dibahas. Di Oriflame, juga sering banget disebut2. Dulu, di STAN pun juga pernah dibahas sama dosen saya, Pak Dandossi Matram. Hihi.

Apa sih mental block itu?
Block itu rintangan/halangan. Mental itu pikiran. Mental block itu halangan yang dibuat oleh pikiran kita sendiri.
“Ah aku nggak pinter ngomong. Mana bisa jadi presenter.”
“Ah, aku bego. Mana mungkin lulus tes beasiswa.”
“Ah, aku nggak bakat bisnis. Pasti nanti gagal.”
“Ah, aku nggak punya channel ‘orang dalam’, pasti ga bakal diterima kerja disitu.”
Pikiran-pikiran kayak gitu tuh yang menghalangi kita untuk sukses. Masa, belum mulai udah mundur duluan? Hehehe. Banyak lho orang yang awalnya ga bisa apa-apa, tapi kemudian berhasil mencapai cita-citanya.

Terus gimana cara mengatasi mental block?
Gini, bayangkan kamu lagi mendaki gunung. Di jalan setapak, ada batu besar yang menghalangi. Terus, apa yang akan kamu lakukan?
a. Balik arah, pulang.
b. Mendorong batu itu sampai ke puncak.
c. Menyingkirkan batu itu.
d. Menganggap batu itu tidak ada.

Pilihan yang paling logis adalah yang c dong?
Masa iya ketemu batu aja pulang?
Masa iya batunya dibawa sampai ke puncak? Berat ga tuh?
Masa iya batunya dianggap ga ada? Terus gimana ngelewatinnya doong ciinnn. Emangnya kita bisa jalan menembus batu? :D

Nah, kalau mental block diibaratkan kayak batu penghalang itu, cara mengatasinya ya pertama-tama, dengan mengakui bahwa dia ada. Dan kedua, yang paling penting, dengan membuangnya pelan-pelan.

Kenapa harus dibuang? Karena, kita akan sulit melangkah kalau masih membawa-bawa mental block itu. Bayangkan kamu mendorong batu besar itu sampai ke puncak.

Kenapa pelan-pelan? Ga harus pelan juga sih, tapi umumnya kan mental block, seperti si batu besar itu, cukup berat. Biasanya dia muncul dari pola pikir dan cara pandang yang udah lamaaa terbentuk, sehingga melekat lebih kuat di pikiran. Menyingkirkan batu besar itu caranya nggak sama kayak menyingkirkan kerikil. Kerikil mah ringan. Disentil juga hilang. Nah kalo batu besar? Butuh kesabaran, tenaga, dan waktu yang lebih banyak :)

Ngak usah stres juga kalo masih belum bisa menghilangkan mental block. Sabar, karena waktu yang dibutuhkan mungkin nggak bisa instan. Ada orang yang bisa cepet, ada juga orang yang membutuhkan waktu lebih lama. Yang penting, sadari bahwa mental block itu cuma menghalangi kita untuk melangkah menuju kesuksesan. Sadari juga bahwa kita memang berniat untuk menghilangkannya.

Misalnya, kita ga yakin nih bakal sukses bisnis MLM di Oriflame. Tapi, jangan diem aja. Beranikan diri dan singkirkan si “batu besar”! Cara menyingkirkannya gimana? Ya, mulai dengan menantang diri kita sendiri. Daftarkan diri kita dan jalani dengan sungguh-sungguh. Pelan-pelan, buang jauh-jauh ketidakyakinan kita. Semakin mental block tersingkir, semakin mantap dan ringan lho langkah kita. Rasanya, langkah kita menjadi dimudahkan. Dan, teruslah melangkah ke puncak! :)

Mereka Bisa, Aku Bisa! – by Faulina Imanta

by Faulina Imanta

Notes singkat ini kutulis di tengah perjuanganku mewujudkan mimpi melalui Oriflame.

Yap, sejak rejoin lagi menjadi salah satu konsultannya di November tahun 2012 lalu (bisa baca notes-ku sebelumnya), sampai saat ini aku memang buanyaak mengalami pasang surut dalam menjalankannya. Di tinggal down line, core team rontok, bahkan sempat vakum cukup lama saat hamil anak ke-2, dikarenakan diriku yang ga sanggup melawan “godaan” mual dan pusing saat berhadapan dengan layar monitor atau HP pada saat itu.
Walaupun demikian, tidak pernah terbersit dibenakku untuk meninggalkan bisnis ini. Aku merasa saat ini Oriflame udah passsss banget menjadi “kendaraan” yang akan mengantarkanku meraih impian.
Kenapa pas? Setelah memutuskan resign dari pekerjaan impianku 3 tahun yang lalu, dengan alasan tak ingin membiarkan anak diasuh orang lain di masa Golden Age-nya, aku mencoba untuk mencari cara lain untuk tetap mempunyai penghasilan sendiri dari rumah.
Sempat bergelut dengan bisnis online shop, tapi pada akhirnya “nyerah” juga dengan rutinitas nyetok, packing,dan barang”.
Akhirnya kuputuskan untuk fokus di Oriflame, yang menurutku jauh lebih simpel dan fleksibel buat ibu rumah tangga sepertiku. Gak perlu sering-sering keluar rumah karena bisnis bisa dikerjakan online, ga perlu nyetok barang, dan yang paling penting tetap bisa memperluas silaturahmi. Terlebih lagi saat kulihat upline yang merekrutku (Ika Kartika Stanie) mengalami kemajuan pesat di Oriflame. Pembuktian oleh Ika yang terpampang nyata di depanku itu menjadi cambuk untukku. Perubahan positif dari segi finansial, sosial, dll yang diperolehnya dari Oriflame membuatku semakin yakin akan bisa mendapatkannya juga. Ika yang kukenal sejak kecil, sekarang jauuuuuhhh berubah lebih baik Karena Oriflame. Pikirku, kalau Ika bisa, aku juga harus bisa dong ;)

Walaupun pergerakanku di success plan mungkin tidak secanggih para leader lain, tapi setidaknya aku tidak akan berhenti di bisnis ini, minimal sampai mempunyai penghasilan yang layak untuk diwariskan ke buah hatiku kelak. Nah, itu dia hal lain yang bikin Oriflame passss bener buatku, bisa diwariskan.

Terlebih lagi amanah dari para downline yang menitipkan impian mereka, jika mengingat semua itu, tambah berdosalah aku kalau memutuskan berhenti di sini. Semangat para downline-ku kini juga menjadi “bahan bakar” untuk terus maju di Oriflame.

Bismillah.. Melalui notes ini, kembali aku mantapkan hati untuk meraih impian bersama Oriflame.
Mereka bisa sukses di Oriflame? Aku juga HARUS bisa!

Oriflame Bukan Untuk ku – by Rany Yulianty

by Rany Yulianty

Dari dulu sudah tahu kalau Oriflame itu bisnis MLM yang bener. Malah pernah gabung saat kuliah. Tapi, nggak ngerti cara menjalankan bisnisnya. Cuma tahu kalau di Oriflame bisa jualan produknya. Berhubung merasa tidak ada bakat dagang, akhirnya cuma bertahan untuk program welcome program selama 3 bulan. Habis itu dadah yuk babay. Saat kerja kembali mencoa peruntungan dengan kembali mendaftar menjadi member. Saat itu tujuannya pengen pakai produknya karena memang sudah tahu kalau produk Oriflame kualitasnya bagus. Pengen dong pakai produk berkualitas secara sudah kerja sudah punya gaji. Eh, ternyata cuma bertahan sampai 3 bulan aja, soalnya memang produk khan habisnya lama. Saat itu upline-ku mendorongku untuk bisa rekrut. Tapi, rasanya rekrut itu susyaaaah banget. Akhirnya mentok dan bilang, bisnis ini sistemnya benar dan adil tapi Oriflame bukan untukku.

Seorang teman menawarkan bisnis ini. Ada rasa tertarik tapi melihat dia yang sibuk kerja sambil ke sana ke mari jalankan bisnis Oriflame membuatku berpikir ulang. Cocokkah bisnis ini untukku? Ah, buat apa aku repot-repot jalankan bisnis Oriflame? Bukankah aku sudah kerja, penghasilanku setiap bulan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Aku belum punya anak. Melihat temanku yang saat itu sudah berada di level Director dengan penghasilan 5 jt/bulan, tidak membuatku bergeming. Hati kecil mengatakan Oriflame bisnis yang oke tapi bukan untukku.

Akhir-akhir ini di time line FB berseliweran status-status positif dari para leader Oriflame. Bahkan, banyak orang yang aku kenal, salah satunya seorang dosen yang cantik dan lincah. Beliau pernah jadi guru mengajiku. Aku lihat di dinding FB, beliau sering memposting foto-foto kegiatan serunya di Oriflame. Tampak menyenangkan, terbersit dalam hati, wajar saja beliau bisa sukses, beliau khan dosen, punya banyak relasi. Orangnya lincah, ramah, dan pintar pasti banyak orang yang mau bergabung bisnis dengannya. Ah, pastinya Oriflame bukan untukku yang lebih suka bekerja di depan laptop daripada harus bertemu orang lain. Pastinya Oriflame bukan untukku yang lebih suka punya penghasilan tetap sebagai karyawan. Oriflame juga bukan untukku yang sering merasa kikuk jika harus mengobrol dengan orang yang baru.

Aku pun kembali menikmati hari-hariku di zona nyaman. Namun, saat telah melahirkan dan memiliki seorang anak, aku tersadar bahwa aku harus bisa keluar dari zona nyaman. Ini demi masa depan buah hatiku. Tapi, apa yang bisa aku lakukan? Tanpa aku sadari, aku sudah meninggalkan dunia menulis buku anak yang sudah aku geluti sejak lulus kuliah. Aku sudah ketinggalan jauh dari rekan-rekanku sesama penulis. Semua orang menghasilkan karya baru. Sedangkan aku hanya stuck tanpa bisa menghasilkan apa-apa. Sementara itu, kebutuhan hidup semakin meningkat karena aku harus memikirkan kebutuhan untuk anakku. Selain itu, rasa percaya diriku merosot tajam. Lalu, aku iseng-iseng buka fb. Aku lihat foto seorang teman lamaku yang diposting di time line FB, dia tampak cantik dan percaya diri. Namanya Dini Setiawati. Iseng-iseng, aku like fotonya. Lalu, dia inbox aku dan ajak aku join Oriflame. Yaah, dicoba aja, deh. Kenapa tidak? Aku kirim foto KTP dan bayar pendaftaran.

Tradaaaaaa….. aku seperti menemukan dunia baru. Dunia yang mengubah cara berpikirku. Dunia yang membawaku dari zona nyaman ke zona tantangan. Luar biasa, tanpa aku sadari, sudah hampir setahun aku menjalankan bisnis Oriflame. Aku merasakan naik turunnya emosi saat menjalankan bisnis ini. Banyak hal baru yang aku rasakan. Aku yang tadinya merasa stuck sekarang merasa yakin bisa mengejar IMPIAN. Aku yang tadinya beranggapan tidak bisa bertemu dengan orang baru jadi merasa yakin bisa mengajak orang lain untuk SUKSES. Sekarang, cara berpikirku berubah, ORIFLAME MEMANG BUKAN HANYA UNTUKKU TAPI UNTUK SEMUA ORANG YANG INGIN MENGUBAH HIDUPNYA DAN MENGEJAR IMPIAN.

#oriflamechangemylife
www.raniyulianty.com

Saya dan Oriflame – by Eka Fetranika

by Eka Fetranika

Oriflame’an? Hadeuhhh…males banget deh dengernya. MLM pulak. Males gak sihhhh??? Bete’ banget deh ditawar-tawarin begituan. Bukan gw banget itu mahhh. Kalau cuma sekedar jadi pemakai, oke, karena saya emang suka dan cocok sama produknya. Tapi kalau harus disuruh nawar-nawarin ke orang, gak dulu dehhh…gengsiiiii….

Ya, itulah yang saya pikirkan beberapa tahun lalu waktu ditawar-tawarin orang join oriflame. Sebagai seorang karyawan yang sudah punya penghasilan serta posisi cukup baik plus kehidupan ekonomi yang lebih dari cukup, rasanya gak kebayang kalau saya harus melakoni yang namanya Oriflame’an itu. Gak level lah kayaknya. Hehehehe….

Nah, kenapa akhirnya saya join Oriflame dan bahkan menikmati aktivitas bisnisnya…semua dimulai dengan tidak sengaja. Tiba-tiba otak dagang saya mikir, daripada saya beli sama orang gak dapat diskon, mending saya jadi member aja deh, lumayan dapat diskon 23%. Setelah jadi member, saya melihat upline-upline saya… kok bisa ya mereka dapat uang jutaan bahkan sampai puluhan juta, dapat mobil, bisa jalan-jalan gratis keluar negeri? Akhirnya mulailah pikiran saya terbuka ingin tahu lebih jauh bagaimana caranya bisa seperti itu. Selain itu, saya juga sudah mulai berpikir mencari pekerjaan lain yang bisa membuat saya lebih dekat dengan anak-anak, karena pekerjaan yang sekarang sangat menyita waktu dan membuat saya sulit melihat tumbuh kembang anak-anak.

Akhirnya perjalanan bisnis saya di oriflame pun dimulai. Saya udah gak kepikir lagi yang namanya gengsi, gak mikir lagi yang namanya label MLM, gak mikir lagi Bukan Gw banget. Semua pikiran negatif itu saya singkirkan jauh-jauh dari otak “kotor” saya. Saya berusaha selalu memikirkan hal-hal positif yang bisa saya petik dari sebuah perusahaan bernama Oriflame ini.

Sebagai newbie, tentu saja saya butuh bimbingan dari upline. Dan Alhamdulillah upline saya bisa mendampingi saya dalam melakukan aktivitas rekrut pertama saya. Home sharing, presentasi bisnis di sekolah anak saya dan di kantor teman-teman saya, saya jalani. Waktu itu sistem online di klub saya belum berjalan baik, karena itu saya harus wara wiri kesana kemari untuk melakukan presentasi. Datang ke aneka training offline yang digelar klub maupun oriflame, saya datangi sendiri, tanpa upline ataupun downline yang mau saya ajak datang. Semua saya jalani karena saya sadar, ini adalah bisnis saya, bukan bisnis upline ataupun downline saya. Saya tidak peduli datang ke training tanpa ada satupun wajah yang saya kenal. Biarin deh, kan saya datang untuk mengambil ilmunya, bukan untuk setor tampang karena ingin menyenangkan upline. Dan Alhamdulillah training-training itu benar-benar bermanfaat buat saya dalam mengembangkan jaringan saya. Alhamdulillah dalam perjalanan selanjutnya saya tidak pernah lagi datang sendirian ke acara training karena saya punya CORE TEAM yang punya visi yang sama, ingin meraih sukses di ORIFLAME.

Alhamdulillah juga dengan kesabaran dan konsistensi, sekarang jaringan saya sudah berjumlah lebih dari 400 orang, meskipun tak dipungkiri tidak semuanya punya visi yang sama. 70% dari mereka berada di jaringan saya hanya karena ingin menggunakan produknya saja, ada juga yang mungkin merasa terpaksa karena gak enak ketika diajak temannya bergabung. 20% sisanya hanya memposisikan diri sebagai penjual. Mereka hanya tertarik menjual produk dan biasanya paling sering komplain kalau barang kosong, orderan telat datang, dan sebagainya. Nah, yang 10% itulah yang biasanya memposisikan dirinya sebagai LEADER. Mereka yang sudah mantap dengan niat dan tujuannya bergabung dengan oriflame. Mereka yang punya mimpi dan tidak pernah menyerah untuk mewujudkan mimpinya. Dan mereka yang sadar akan tugas dan kewajiban mereka sebagai seorang Leader di Oriflame yaitu TUPO, REKRUT, BINA. Mereka yang tidak pernah mengeluh jika ada masalah apapun yang terjadi, tapi mereka berusaha mencari solusi bagaimana agar masalah itu bisa teratasi. Mereka yang tidak pernah absen berkomunikasi dengan upline leadernya, membahas dan merencanakan strategi apa yang bisa mereka lakukan agar jaringannya bisa berkembang. Ya, dengan 10% orang inilah saya bekerja, menyatukan visi dan misi demi sebuah perubahan positif dalam hidup kami. Ini adalah bisnis amanah, hanya orang-orang yang bisa mengemban amanah yang bisa menjalankan bisnis ini. Amanah untuk mengantarkan para downline yang satu visi untuk mewujudkan impian mereka.

http://simplebiznet.com/?id=fetranika

http://ekafetranika.blogspot.com

Kami (Saya dan Suami) dan Daycare/TPA – by Amalia Maharani

By Amalia Maharani

SEMANGAAT PAGII… :)

Daycare?? Apa yang Anda pikirkan bila mendengar kata Daycare atau Tempat Penitipan Anak (TPA)?

Menurut artikata.com daycare itu “childcare during the day while parents work” atau penitipan anak selama orang tua bekerja..

Disini saya tidak memperdebatkan ya antara orang tua dhi seorang “ibu” atau “bunda” atau “mama” bekerja demi anak2 dan keluarganya maupun seorang “istri” atau “ibu” yang tidak bekerja dan hanya mengasuh anak2 dan keluarganya dirumah.. Itu adalah PILIHAN dari masing2 KELUARGA (pasangan Suami Istri) apakah sang Istri / Ibu untuk Bekerja atau Hanya mengasuh anak dan keluarganya di rumah..

Ini adalah tentang Kami, saya dan suami dan DAYCARE untuk anak2 kami..

Saat ini, saya masih menjadi seorang pegawai di instansi pemerintahan.. Ya, saya masih bekerja.. Suami saya juga berada di satu instansi yang sama.. Saat ini kami sudah dikaruniai dua orang putri yang alhamdullilah sehat (mudah2an selalu sehat dan sholehah yah Nak.. amiien), si Kakak Nabila berumur 3 tahun dan si Adik Nasita berumur 7 bulan..

Kami, sudah terbiasa HIDUP di PERANTAUAN.. Kakak Nabila lahir normal di Mataram, Lombok.. Saya melahirkan Nabila, anak pertama hanya ditemani oleh suami saja.. Mungkin untuk teman2 lainnya, anak pertama (sebagian besar) ditemanin oleh Ibu Kandung ataupun Ibu Mertua, yah namanya juga kelahiran perdana pastilah moment ini sangat ditunggu2, penuh kepanikan (karena belum tahu bagaimana cara melahirkan, cara mengasuh bayi yang baru lahir, cara merawat diri setelah melahirkan dan ilmu2 lain yang diturunkan dari Ibu untuk Ibu baru..)

Alhamdullilah, untuk anak pertama, kami mendapatkan “REJEKI Pengasuh” untuk si Kakak Nabila dari Tawamangu, Solo. Namun, Rejeki ini hanya bertahan 9 bulan saja.. SEDIH, pastilah SEDIH.. Karena saya sudah berharap banyak pada si Pengasuh ini namun dia sudah tidak mau kembali ke Mataram.. DILEMA… yaa, dilema… Saat itu, yang saya mau, saya hanya mau orang yang terbaik untuk mengasuh Nabila, si anak pertama.. Berbulan2 kami mencari alternatif, baik dari Babysitter, Saudara, ataupun Daycare di Mataram.. 3 bulan lamanya kami bingung, saat itu di Mataram BELUM ada DAYCARE MUSLIM yang menerima Bayi, yang ada menerima bayi saat berumur 1 Tahun..

Well, ketika umur 1 Tahun, kami TITIPkan lah Nabila di TPA dekat kantor.. Memilih untuk menitipkan anak di TPA itu juga bukanlah perkara gampang lhoo temaaan… Kami sudah menimbang2 hal POSITIF dan NEGATIF jika menitipkan anak di TPA.. Positif nya saya merasa “lebih nyaman” ketika meninggalkan anak saat bekerja di kantor, anak lebih cepat berkembang karena banyak bergaul dengan teman2 seusianya.. Negatifnya meninggalkan anak di penitipan, apabila ada anak yang satu sakit sotomatis anak kita akan tertularkan virus juga (itu gak dapat dihindari yaa)..
Lhoo, tau anak nya bakalan ketularan virus, kok dititipin juga??
Yang namanya ibu bekerja, masalah pengasuh itu adalah masalah nomor satu, sering gonta ganti pengasuh itu akan menambah pikiran kita.. Gak dipungkiri itu akan mengurangi FOKUS kita dalam BEKERJA.. Saya dan suami memang TIDAK BISA MENGIMPOR orang tua untuk MEMBANTU MENGAWASI Pengasuh dalam mengurus anak yaa (sekali lagi, jangan samakan kondisi kita dalam hal ini..)..
“Bu, saya mau tugas keluar daerah, ibu tolong dong ke daerah X untuk jagain anakku dirumah..” itu berlaku utk beberapa orang temen saya yang sama2 satu profesi..
Nabila itu sudah terbiasa berangkat pagi dan pulang sore bersama kerumah, sampai usianya menjelang 3 tahun ini..
Oya, sekedar informasi biaya daycare per bulan di Mataram (belum termasuk makan) Rp450.000/bulan (dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore)

Lain Nabila, lain lagi cerita untuk adik Nasita..
Oleh dokter, Nasita diperkirakan lahir di bulan November.. (dalam hati, merasa deg2an nih karena akan dimutasi).. Mei dan November itu adalah bulan mutasi pegawai. Di Instansi kami (saat itu) setelah Surat Keputusan (SK) keluar, 1 bulan sudah harus berada di tempat mutasi yang baru.. Yang namanya MUTASI yaaa, tidak tahulah kami akan dipindah kemana, dari Aceh sampai Papua terbuka lebar..
Saya hanya berdua sama kakak Nabila saat itu di Mataram, dan apabila saya melahirkan November di Mataram, dan suami saya dapat SK (ntah ke daerah mana itu) berarti saya hanya bertiga bersama Nabila dan Nasita.. Yang namanya PINDAH, itu kan BUTUH PERSIAPAN.. Rempong juga kalau saya harus BAWA BAYI 2 atau 3 bulan ke daerah yang baru (saat itu belum tau penempatan dimana).. Jadilah, saya memutuskan untuk melahirkan di JOGJA, sambil ngurus penempatan sementara di jogja 3 bulan.. Bulan Oktober 2013 saya pulang ke Jogja untuk melahirkan di sana (dalam hati alhamdullilah dekat dengan orang tua dan pasti banyaklah yang mau mengasuh adiknya Nabila, sementara Nabila saya sekolahkan dekat dengan rumah mertua saja)..
Namuuuunn, ternyata eh ternyata, yang namanya nyari pengasuh susaaaaahhhnyaaa minta ampuuuunn, itu untuk di Jogja lhoo teman, bukan utk di Jakarta, itupun saya minta cuma 3 bulan ketika saya ngantor di Jogja… Ya Allah, susah bener sepertinya nyari pengasuh ini..
H minus 3 hari saya ngantor, suami mencari info DAYCARE di Jogja dari internet, dan dapatlah Daycare di Jogja, 15 menit dari Kantor.. Dan untuk kedua kalinya, kami menitipkan kedua belah hati kami di Daycare..
Biaya Daycare di Jogja (sudah termasuk makan) Rp1.100.000/bulan/anak (selama 12 jam, jam 7 pagi sampai 7 malam), belum termasuk uang gedung.. Jadilah 3 bulan, kami menitipkan Nabila (3 tahun) dan Nasita (2 bulan) di Daycare Jogja, setiap hari berangkat pagi dan pulang sore sama saya (sementara Bapaknya sudah penempatan di Jakarta)..

Okeey, saya tetap mencari pengasuh dong untuk anak2 kami apabila saya sudah mulai ngantor mengikuti suami di Jakarta.. Ya Allah, kok rasanya tetap susah yaa… Okelah, saya dan suami mencari info2 tentang DAYCARE.. Saya tanya ke teman2 kantor pusat.. Sebagian besar mereka menggunakan Pengasuh tapi diawasin ama orang tua nya (teuuteeep yaa..).. Ada penitipan bayi dan anak yang dikelola oleh Dharmawanita tapiiii FULL, FULL Of BOOKED… dan lagipula kita tidak boleh menitipkan anak 1 bulan FULL.. per hari nya Rp85.000.. (jadi kira2 sebulan Rp1.600.000) ya Allah, udah bayar mahal kok susah beneeer siih masuknya, antriannya panjaaaangg… Okee, cari alternatif daycare lain, ada depan kantor punya Kehutanan tapii untuk kesana nya saya harus melewati jembatan penyebrangan dan jalan kaki (oooh Nooo, kok hidup penuh perjuangan banget siiih, bawa dua anak, dan pasti satu tas besar berisi perlengkapan baby, belum lagi kalau hujan.. Ya Allah…)
dan yang ketiga ada di belakang kantor, daerah Benhil… Nelpon ke sana, dan tau temans.. biaya daycare nya Rp2.750.000,00 per bulan per anak belum termasuk uang gedung..

Disinilah SAYA NANGIS… SAYA SEDIIH…

Bayangin teman, gaji dan remunerasi saya yang seberapa itu MASIH KURANG untuk membayar DAYCARE untuk DUA ANAK di Jakarta..
Apa gunanya SAYA KERJA tapi anak2 kami, kami titipkan di DAYCARE???
Apa bedanya SAYA KERJA tapi harus membayar daycare, atau SAYA GAK KERJA dan mengasuh anak2 dirumah??
Sama2 saya kehilangan 5,5 juta perbulan kan?? Kalau saya kerja saya kehilangan 5,5juta per bulan untuk nitipin anak di daycare, kalau saya gak kerja saya tidak mengeluarkan anak 5,5juta untuk biaya daycare…
Bedanya, kalau saya gak kerja, waktu saya dengan anak2 lebih banyak…

Ya Allah….
Saya gak sanggup untuk meninggalkan anak2 dengan orang yang tidak saya percaya..
Belum lagi banyak berita di TV yang menyebutkan pengasuh dari yayasan yang menganiaya anak majikannya..
Ya Allah…
dalam hati sedih bukan main, saya itu kerja untuk siapa siih?
Untuk anak2 juga kaan?? Tapi kenapa anak2 yang jadi seperti ini??

Sampai akhirnya, kami memutuskan untuk mengajak 1 keluarga hidup bersama kami, yah istri suami dan anaknya untuk mengasuh anak2 kami..

Dimulai dari JAKARTA, BIAYA DAYCARE, PUTRI PUTRI kami lah, yang membuat Saya MANTAP untuk JOIN BERSAMA Oriflame..
Hanya ORIFLAME, Perusahaan yang menyediakan dan menjual MIMPI,, dan MIMPI saya adalah INVESTASI WAKTU

Wanita Hebat – by Aida Fitriani Lubis

By Aida Fitriani Lubis

Assalamulaikum Wr.Wb…

Anak kecil bisa jadi besar karena melalui proses belajar. Tidak ada anak kecil tiba2 bisa naik sepeda tanpa melalui proses “jatuh” dari sepedanya. Bener gak?

Sama hal nya dengan kita orang dewasa, ilmu yang dipelajari di sekolah itu hanya teori yang tidak akan sempurna jika tidak pernah kita praktekkan di lingkungan sekitarnya. Belajar mempelajari karakter orang, belajar sabar menghadapi anak2 kita dan mendidik mereka menjadi orang2 yang mandiri, belajar memimpin menjadi leader dalam sebuah komunitas. Bahwa banyak hal2 yang bisa mendewasakan kita dari pengalaman2 hidup yang kita jalani. Intinya, Jangan pernah berhenti untuk belajar hal hal baru. Hadapi semua kesulitan dan tantangan hidup ini untuk bisa terus “naik kelas”.

Yang saya rasakan sejak bergabung di bisnis Oriflame, saya banyak mengenal karakter orang, banyak belajar bagaimana memanage waktu antara keluarga dan bisnis, bagaimana menjadi Leader yang menginspirasi. Dulu, sebelum saya join Oriflame hidup saya gitu2 aja.. ngrumpi sana sini gak jelas gitu. (waktu itu belum kerja). Dulu saya itu gaptek pke bangettt.. Tapiii sejak saya gabung di Oriflame, saya bertemu dengan upline2 saya yang yang memaksa saya untuk maju, gak ada istilah waktu saya terbuang percuma. Pikiran selalu positif, belajar terus dan terus membina downline2 saya dan membagikan ilmu dan motivasi ke banyak wanita Indonesia untuk mau maju mengentaskan kemiskinan.

Wanita sekarang harus beda dengan konsep wanita jaman dahulu. Kalau dulu wanita itu cuma identik dengan “Konco Wingking” ( Sumur, Dapur, Kasur) kali ini wanita harus SIAP menjadi tulang punggung keluarga sekaligus pengayom buat anak2nya juga. Tanpa mengurangi kodratnya sebagai seorang wanita, Seorang Ibu juga harus mampu secara Jasmani maupun Rohani sebagai “motor” di dalam keluarga. Maksudnya motor disini kalau saya ilustrasikan ibarat roda sepeda, kalau roda yang satu bocor, pasti kita harus punya cadangan roda baru kan ya? Nah… kita wanita itu juga harus bisa jadi roda cadangan di keluarga. Sewaktu2 suami kita tidak mampu secara finansial menafkahi keluarga, maka peran serta wanita di perlukan disana. Sehingga jangan sampai hidup kita berhenti hanya gara2 kita gak punya cadangan roda.

Soo.. notes saya kali ini cuma ingin mengajak wanita2 super Indonesia, memberantas kemiskinan. Kemiskinan dalam arti luas, bukan Cuma kemiskinan finansial tapi miskin hati. Selalu berpikir positif, jangan dikit2 mengeluh. Jangan dikit2 meratapi kesedihan. Yang harus kita lakukan adalah BERGERAK MAJU. Lakukan sesuatu yang positif, cari inovasi2, buang kata2 galau, yakin bahwa akan ada bantuan Allah dalam setiap kesulitan. Berdoa, Belajar dan terus berusaha.

Semangat Pagi Wanita Indonesia!
Selamat Berkarya untuk Bangsa dan Negaramu

Sekilas Perjalanan Tiwi Bersama Oriflame – by Turenah Pertiwi

By Turenah Pertiwi

Awal tiwi join saat jadi ibu muda yang galau karna kondisi keungan mepet,,,
suami kerja serabutan yang hari ini kadang dapet duit besok kaga,,,
tiwi tinggal di garut ngontrak rumah bareng putri kecil tiwi saat itu yang ada di benak tiwi,,
hanya ingin punya penghasilan tapi ga ninggalin putri

karna dari tiwi kecil sudah di tinggal mamah kerja tkw sampai saat ini,,
tapi walaupun mamah jauh dari tiwi tapi mamah adalah wanita terhebat yang tiwi punya ,,
sedih rasanya saat lebaran,,, saat kenaikan kelas,,, daan saat-saat tiwi butuh mamah mamah jauh dari tiwi,
masa kecil yang jauh dari mamah , menjadi motivasi tiwi untuk tak mau ninggalin putri,
karna tiwi ngerasin bgt gimana masa kecil tanpa mamah di samping tiwi,,

itu lah motivasi terbesar tiwi untuk punya bisnis di rumah dan tetap bareng putri,
sulit memang ingin memiliki usaha / bisnis dengan kondisi ekonomi yang pas pasan bgt,,
sehari cuma megang duit 20 ribu, harus cukup untuk beli beras dan lauknya,,
tapi inilah keyakinan tiwi, kalo tiwi masih diam aja dengan kondisi seprti ini gimana kelak masa depan putri,

tiwi ga punya apa-apa untuk memulai bisnis oriflame hp butut yang tiwi punya alhamdulilah bisa buat fb dan buka opera mini
kemamuan,, keyakinan.. tenaga..doa,,semangat dan impian yang tiwi punya saat itu

pernah tiwi ber3 ke bandung cuma bawa uang 80 ribu ber 3 naik motor bareng putri dan suami dari garut
pulang malam kehujana dan sisa uang 20 ribu,, cukup untuk beli bensin 10 ribu dan pop mie 1 buaat putri,
dari situ semakin kuat keinginan tiwi untuk sukses di oriflame

tiwi yakinkan dalam hati ini ga akan lama yaah,,, ini ga akan lama kaka putri

dengan tekat kuat tiwi yakin apapun masalah tiwi ,
tiwi ga akan berhenti di sini,
ga akan tiwi sia – siain pengorbanan putri keujanan di jalan naik motor malem2,,
ga akan tiwi sia-siakan pengorbanan ayah yang mau anter tiwi ke mana aja walau sedang sakit
dengan sebuah kata menyerah,,

tiwi ceritain lagi ga mudah,,prosesnya,,
tapi tiwi juga pastiin kalo ini ga mustahil..
memupuk suatu keyakinan dalam diri, kadang merasa tiwi ga mampu,,ga bisa,, ga bakat,, ga pd,,
tapi itu hanya sesaat,,, sesaat aja tiwi kalah, karan tiwi yakin allah menciptakan manusia dengan sempurna,,
dengan segala kelebihan dan kekurangany kalo yang lain aja bisa,,
kenapa tiwi nggak,,

KONSISITEN ,,,
itu yang tiwi lakukan dulu,,
konsisten merekrut,,
konsisiten membina,,
konsisten sebar katalog,,
konsisiten cari ilmu

alhamdulilah dengan konsisten itulah tiwi bisa mencapai titel senior manager dan tinggal satu langkah lagi ke director,
tak pernah tiwi bayangkan sebelumnya seorang tiwi,,
hanya ibu rumah tangga biasa,, denga ke GAPTEKAN luar biasa mampu mencapai titel director,,
walau pun belum tapi insya allah tiwi akan terus kejar itu,

beberapa hari ini tiwi ga bisa tidur karna setiap hari kaka putri selalu cerita dan tanya
” mamah hotel itu ada AC nya ya,, ??mamah hotel itu ada showernya ya,,, ?? Kasur nya empuk ya,,,?? TV nya gede ya…?
dan semua temen yang main sama putri pasti putri ceritain kalo putri mau nginep di hotel oriflame bareng mamah
setelah ulang tahun putri nanti,, ya kebetulan acara DIRECTOR SEMINAR di bandung feb nanti satu bulan setelah putri ulang tahun
dan tiwi harus berjuang sekuat tenangga agar bisa dapet 2 tiket nginep di hotel gratis bersama oriflame
ga akan tiwi hancurkan ,impian putri walau cuma sederhana ,,, ngerasain bobo di hotel katanya hehehee mimpi bocah yang polos,,

jadi ga akan tiwi pupuskan impian putri dengan sebuah kata menyerah,,,
kamu menyerah karna ga punya modal,,
sama tiwi juga dulu ga punya modal, tapi tiwi ga menyerah hinnga bisa di sini

kamu menyerah karna merasa diri gaptek,, sama tiwi dulu super gaptek, tapi tiwi ga menyerah

kamu meyerah karna ga naik-naik level,, sama tiwi dulu stay di level yang sma sampe 3 bulan berturut-turut , tapi tiwi ga menyerah

kamu menyerah karna harus sibuk ngurusin yang sakit, sama dulu nenek tiwi sakit sampe meninggal tiwi di sampingnya tapi tiwi ga meyerah

kamu menyerah karna merasa lelah, cape,, kesel sama downline atau upline ,,
sama tiwi dulu pernah diem-deiamn sama upline mba ika , sampe beberapa hari,, dan nangis 3 hari hehehe,, tapi tiwi ga menyerah

kamu menyerah karna orderan lama sampe,, prospekan ga ada yang mau,, temen-temen pada tidur,,
sama tiwi juga ngalamin,, tapi tiwi ga menyerah

jadi appapun yang temen-temen alami tiwi juga ngerasain dulu sampe sekarang
hanya butuh keyakinan yang kuat dan impian yang kokoh untuk tetap konsisten
dan ga menyerah sediakan waktu minimal 2 jam sehari,
konsisten pasti akan menemukan titik di mana sama kaya tiwi

pengalaman pahit,, sedih galau,,
indah kalo di certiain saat ini saat di mana kehidap mulai berubah,,
impian mulai terwujud,,senyum suami dan putri juga keluaraga tersungging,,

benar hidup hanya sebentar,,
maka yang sebentar inilah kita wajib membahagiakan orang orang yang kita sayangi

masih banyak impian tiwi yang belum tercapai bisa ajak putri lihat salju,,
bisa beliin mamah dan bpk kehidupan yang layak di masa tua kelak,,
bisa lebih banyak membantu sodara dan masih banyak lagi,,,

dan sampai saat itu terwujud ga akan tiwi menyerah..
kecuali memang sudah habis waktu tiwi di sini,,
tapi setidaknya walau sudah ga ada tiwi masih bisa di ingat,
bukan ibu yang suka galau hehehe , jadi detiknya,,,
menitnya,, jam dan setiap waktunya,, ga akan tiwi sia siain

semangat terus tiwi…
impian itu harus di jemput,,
impian itu harus di perjuangkan,,
impian itu harus butuh pengorbanan,,
impian itu indah,,,
impian itu penyemangat,
,karna kalo ga punya impian,, hidup akan terasa membosankan
tutup mata dan bayangkan orang-orang yang kita sayangi tersenyum bahagia

semangaat tiwi
go director
yoyoyoyo

Ramadhan Setahun yang lalu, Dibalik Alasan Untuk Berhenti Bekerja – by Dede Purwanti

By Dede Purwanti

Mau flashback setahun yang lalu..

Waktu itu, kala ramadhan saya masih kerja kantoran di bank..
Kebetulan sudah 3 kali ramadhan di kantor pasti selalu lagi bertugas untuk menggantikan anak buah yang lagi lahiran.

Jadi, gak ada yang namanya bisa pulang cepet, karena ya saya jadi si juru kunci, pegang kunci kantor, pegang kunci lemari besi.

3 tahun yang lalu bertugas di depok, buka puasa pasti di kantor atau di bis..
2 tahun yang lalu di citeureup.. buka puasa selalu di kantor, karena itu cabang yang sama sekali gak kenal kata ‘pulang tepat waktu’
Setahun yang lalu… di cabang pasar anyar bogor..
Deket sih, dari rumah gak sampe setengah jam.
Tapi karena kantor cabang menyatu dengan kantor area manalah bisa pulang cepet juga karena sering ada meeting, dsb..

Setahun yang lalu, saya berbuka puasa selalu dengan teh manis hangat, dan gorengan saja..
sambil menghitung uang nasabah di counter teller sambil melakukan cash opname dan tutup sistem..

Setahun yang lalu, setiap hari saya telepon ke rumah untuk bertanya sama Alya, ‘sudah buka nak? Buka sama apa?’ gak kerasa mata jadi panas, karena kebayang dia buka puasa selalu sama ART.

Setahun yang lalu, hati nurani saya terusik, jika pada waktu menagih nasabah yang menunggak cicilan saya harus agak ‘keras’ dalam melakukan penagihan.. padahal saya termasuk orang yang ‘gak tegaan’
Pernah satu waktu, saat menagih nasabah nunggak, yang keluar dari rumah adalah ibunya yang setua ibu saya, yang baru saja saya berucap ‘permisi bu saya dari bank’ tiba2 bibirnya bergetar menahan tangis..
Duh.. kebayang ibu sendiri.. :(
Dan pernah kali lain, saat saya menagih nasabah menunggak, saya lihat anak si nasabah bahkan menyusu dengan air tajin, rumah berlantai tanah dan tak ada satu perabot pun di dalamnya..
Nurani saya terusik, hingga akhirnya malah saya yang memberi uang susu untuk anaknya :(

Setahun yang lalu.. saya tidak pernah melakukan sholat tarawih.
Karena saat tarawih, saya sibuk membuat laporan. Sampe ke rumah sudah gak ada tenaga untuk tarawih sendiri..
Sesekali hanya sholat tarawih dan membaca Al-Qur’an di hari minggu..
Emang ada berapa hari minggu dalam 1 ramadhan? Silahkan hitung sendiri…

Ya Allah ya Rabb…
malam takbiran saya bersimpuh..
Saya menangis di atas sajadah..
Ya Allah.. apa sebenarnya yang saya cari di dunia ini.. di pekerjaan ini..
Satu ramadhan terlewati dengan sia2 tanpa saya rasakan nilai ibadahnya..
Apa yang saya kejar sementara yang terpenting di dunia ini yaitu mencari ridha Allah tidak saya lakukan?
Anak-anak beribadah tanpa kehadiran saya..
Menagih hutang yang bukan uang saya walau itu merupakan bagian dari pekerjaan tapi tetap hati nurani saya tidak sejalan..
Dan saya.. menyia2kan waktu hidup untuk melewatkan satu ramadhan tanpa mendulang pahala sebanyak2nya..

Ya Allah ya Rabb.. saat itu saya berfikir.. akankah masih ada umur saya di ramadhan berikutnya?
Akankah saya diberi kesempatan untuk memperbaiki iman saya kepadamu ya Allah..

Dan hampir setahun yang lalu, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja karena ALASAN ini..
Bukan karena bos yang tidak ramah, rekan kerja yang menyebalkan, atau karena mau fokus oriflame an..
Saya berhenti untuk menambah nilai ibadah :)

Alhamdulillah saya sudah menjalani bisnis Oriflame sewaktu masih di kantor dulu sehingga saya masih bisa berpenghasilan walau hanya berstatus ibu RT saat ini.
Alhamdulillah setelah berhenti, saya yang tadinya kerja 12 jam dan hanya digaji 3 juta malah bisa bekerja hanya dari rumah saja dan bisa digaji sampai 7 juta.

Setahun yang lalu, biarlah menjadi kenangan..
Saat ini.. sudah 9 hari ramadhan dilalui dan bahagiaaa rasanya tiap hari berbuka dengan anak-anakku..
Mengajari Alya naik sepeda, melihat kelucuan alena..
Memasak buat mereka, jalan2 bertiga cari ta’jil, dan bahkan cuma bikin teh manis hangat aja sudah dapat ciuman bertubi2 dari anak2..
Saat ini.. sholat, ngaji, mengajari sudah gak diburu2 pekerjaan dan deadline..
Ritme pekerjaan sudah saya yang atur waktunya.
Namun penghasilan tetap bisa melebihi kerja kantoran..

Notes ini dibuat bukan untuk meyudutkan ibu bekerja, ini hanya sepenggal dari pengalaman kecil saya yang pada akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dunia kantoran..
Semua orang punya pilihan, dan saya memilih untuk bekerja dari rumah saja :)

Cerita setahun lalu, merupakan anugerah untuk menapaki cerita saya hari ini…

23.15
7 juli 2014