Warning: session_start() [function.session-start]: Cannot send session cookie - headers already sent by (output started at /home/simple/public_html/simplebiznet.info/wp-content/plugins/all-in-one-seo-pack/aioseop_class.php:1443) in /home/simple/public_html/include/global.php on line 1357

Warning: session_start() [function.session-start]: Cannot send session cache limiter - headers already sent (output started at /home/simple/public_html/simplebiznet.info/wp-content/plugins/all-in-one-seo-pack/aioseop_class.php:1443) in /home/simple/public_html/include/global.php on line 1357

Instan vs. Proses – by Naela Zulfa

By Naela Zulfa

Pada bulan November lalu, ketika saya menghadiri acara OOM (Oriflame Opportunity Meeting) di Semarang, ada bagian yg menarik di awal acara. Waktu itu panitia menampilkan sebuah tayangan animasi.

Dalam tayangan itu, diceritakan ada 2 orang, sebut saja si Instan dan si Proses. Instan dan Proses adalah dua orang pemuda yg tinggal di sebuah kampung yg sama. Kampung tempat mereka tinggal itu ternyata jauh dari sumber mata air, padahal untuk kegiatan sehari-hari, mereka sangat membutuhkan air. Satu-satunya sumber mata air terdekat letaknya di bukit seberang.

Lalu apa yg dilakukan si Instan dan si Proses?Si Instan melakukan hal yg kebanyakan orang lakukan, dia mendatangi sumber mata air tersebut untuk mengambil air. Setiap hari si Instan bolak balik ke sumber mata air membawa air dari sana dg ember ke kampungnya. Si Instan bisa memperoleh penghasilan dari apa yg dilakukan itu. Dia mulai bercocok tanam dan mempunyai beberapa hewan ternak.

Bagaimana dengan si Proses?Wah, ternyata dia melakukan hal yg berbeda, dia malah ingin menghubungkan sumber mata air di bukit sebelah dengan kampungnya dengan membangun saluran pipa. Pada siang hari si Proses mengangkut air sama seperti yg dilakukan si Instan, tapi malam harinya dia sedikit demi sedikit membangun saluran pipa tersebut.

Apa reaksi orang-orang kampung terhadap apa yg dilakukan si Proses?Mereka menertawakan dan mengejek si Proses. Di mata orang-orang kampung, apa yg dilakukan si Proses itu adalah hal yg aneh dan tidak masuk akal.Mereka lebih bisa menerima apa yg dilakukan si Instan, karena memang hasilnya lebih terlihat. Si Instan setiap hari bisa membawa ember berisi banyak air ke rumahnya. Sementara si Proses, dia hanya membawa air secukupnya di siang hari dan malamnya sibuk membangun saluran pipa, yang menurut orang-orang adalah hal yg mustahil.

Hari, bulan dan tahun pun berganti. Si Instan dan si Proses pun semakin lama semakin tua dan fisiknya melemah. Si Instan kini sudah tidak sanggup lagi bolak balik setiap hari ke sumber mata air untuk mengambil air. Tanaman di kebunnya pun mulai mati, hewan-hewan ternaknya kekurangan air, hidup si Instan kini jadi susah.

Bagaimana nasib di Proses?Saluran pipa yg selama ini dibangun si Proses dengan kerja keras sudah jadi. Kini si Proses bisa menikmati hasilnya. Dia tidak perlu jauh-jauh pergi ke bukit seberang untuk menimba air. Air dari sumber mata air, mengalir dengan sendirinya menuju rumah si Proses, memenuhi kebutuhan sehari-hari, menyirami tanaman-tanaman miliknya, dan juga hewan-hewan ternaknya. Si Proses bisa menikmati hasil atas kerja kerasnya selama ini. Walaupun dulu banyak orang yg mengejek dan menghinanya, tapi dia tetap fokus dg tujuannya, dan akhirnya dia bisa membuktikan hasilnya.

Bagaimana dengan kita? Siapakah kita? Seorang pembawa ember seperti si Instan? Ataukah seorang pembuat saluran pipa seperti si Proses? Apakah kita hanya mendapatkan penghasilan kalau bekerja, seperti si pengangkat ember? Ataukah kita termasuk orang yang bekerja secara cerdas & kemudian mendapat penghasilan secara terus-menerus, seperti si pembuat saluran pipa? Seiring dengan kemajuan jaman dan teknologi serta kerasnya persaingan hidup, waktu dan tenaga bagi semua orang adalah taruhan dalam usaha mereka untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Tidak peduli siang atau malam, hujan atau tidak, mereka bekerja keras mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan hidup.
Namun yang menjadi masalah adalah:
Pertama, waktu terbatas hanya 24 jam.
Kedua, tidak selamanya kita mampu bekerja.

Lantas, apa yang dapat kita lakukan? Cobalah untuk mengubah paradigma atau pandangan kita tentang cara mendapatkan penghasilan .Paradigma umum yang berlaku dalam mendapatkan penghasilan adalah bekerja untuk mencari uang dan membayarnya dengan pengorbanan waktu dan tenaga secara terus-menerus. Bekerja keras memang baik. Namun faktanya, kita tidak dapat bekerja secara terus-menerus karena ada saatnya kita memasuki masa pensiun/tua, stress dan depresi dengan urusan kantor, sakit, dan sebagainya. Kita juga butuh waktu untuk keluarga, memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup yang semakin beragam dan berusaha mewujudkan segala impian yang begitu kita harapkan.

Memang tidak mudah untuk mengubah cara pandang seseorang yang sudah turun-temurun melakukan cara kerja yang sama. Banyak orang yang suka berdiam diri di zona nyaman dengan menjalankan tugas rutin yang sudah menjadi kebiasaannya selama bertahun-tahun, sehingga mereka lupa untuk melihat kenyataan bahwa di luar sana ada cara-cara lain untuk mendapatkan penghasilan dengan lebih efektif. Seperti yang terjadi pada si Instan dan si Proses, mereka berangkat bersama-sama dan memiliki tujuan yang sama, tetapi karena mereka memiliki cara yang berbeda untuk mencapai tujuannya, maka hasil yang mereka peroleh pun tidak sama.

Inilah yang membedakan orang yang bekerja keras dengan orang yang bekerja dengan cerdas. Ada baiknya kita mulai mengubah paradigma lama itu dengan paradigma baru yang lebih baik. Oleh sebab itu, jika ingin berhasil, kita perlu membuka diri dan membuka pikiran, jangan skeptis dengan pendapat atau gagasan dari orang lain. Siapa tahu, kita bisa mendapat inspirasi dari gagasan tersebut yang bukannya tidak mungkin akan membawa perubahan besar dalam hidup kita.

Cerita diatas memang hanyalah cerita fiktif. Tapi saya bisa mengambil pelajaran dari cerita itu, karena apa yg dilakukan si Proses mirip seperti apa yg sedang saya lakukan di Oriflame. Saya tau banyak orang yg masih meragukan, menyepelekan, merendahkan bahkan menghina bisnis yg saya jalankan ini. Sebuah bisnis MLM yg masih di cap negatif oleh masyarakat, bisnis dengan modal kecil yang dianggap tidak akan mampu menghasilkan banyak keuntungan, bisnis yg mungkin masih aneh bagi kebanyakan orang. Saya juga tau banyak yang akhirnya menyerah setelah mencoba bergabung di bisnis ini. Karena mereka belum merasakan ada hasil apa-apa. Padahal, membangun bisnis Oriflame itu sama seperti membangun saluran pipa air, butuh proses dan tidak instan. Pada awalnya memang terasa berat dan hasilnya pun belum terlihat. Tapi ketika saluran pipanya jadi, maka kita tinggal menikmati hasilnya. Di saat orang lain masih bekerja keras membanting tulang untuk mendapatkan penghasilan, kita sudah punya saluran pipa yang mengalirkan penghasilan masuk sendiri ke kantong kita.

Sekian sharing dari saya, semoga bermanfaat :)

Naela Zulfa
Independent Consultant Oriflame

http://naelazulfa.blogspot.com